Rabu, 22 Juli 2009

Menara Api di Tengah Kegelapan Dunia

Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika setiap orang Kristen hidup sesuai dengan ajaran Kristus, maka tidak akan ada orang yang tidak mengikut Yesus di India. Pernyataan ini merupakan satu tantangan bagi setiap pengikut Yesus apakah di India ataupun di belahan dunia yang lain. Bagi kita yang mengetahui apa yang terjadi di dalam gereja, di antara orang-orang Kristen, seringkali kita hanya dapat menangis saat melihat kualitas kehidupan orang-orang yang memanggil diri mereka Kristen tetapi tidak ditemukan ciri-ciri Kristus di dalam diri mereka. Tetapi syukurlah, walaupun jarang tetapi terkadang masih dapat kita menemukan bintang-bintang cerah yang bagaikan menara api di tengah-tengah kegelapan lautan dunia ini.
Pada tanggal 23 Januari 1999, seluruh dunia, bukan saja umat Kristen dikagetkan apabila koran-koran utama memberitakan tentang seorang misionari, Graham Staines bersama kedua putranya, mati apabila mobil mereka hangus dibakar massal. Peristiwa ini terjadi di Orissa, India tempat di mana Graham sudah melayani selama 35 tahun di Rumah Sakit Kusta Mayurbhanj. Pada malam itu mereka baru saja selesai mengadakan kebaktian bersama umat Kristen di sebuah desa dan saat mereka sedang tidur nyenyak di dalam mobil, massal yang tidak menyukai kegiatan mereka mengepung dan membakar mereka hidup-hidup.
Peristiwa ini sudah tentu sangat mengguncang India. Tetapi hal yang terjadi setelah itulah yang benar-benar membuat masyarakat umum mulai bertanya siapa mereka ini dan apa yang memotivasi keluarga Staines meninggalkan kenyamanan kehidupan di Australia dan mengabdikan diri mereka untuk membantu orang sakit kusta di tempat terpencil di utara India itu. Saat berdiri di hadapan tiga peti mati berisi mayat suami dan kedua putranya yang tercinta, istri Graham, Glades dengan tenang dan penuh kasih mengumumkan pengampunan kepada orang-orang yang sudah membunuh keluarganya. Di hadapan kru televisi dan kerumunan orang banyak yang menghadiri pemakaman itu, Glades bersama putrinya, Esther, menyanyikan lagu “Because He Lives” [Karena Dia Hidup].
Kristus diproklamirkan dari halaman utama koran-koran di India. Tidak lama setelah peristiwa ini seorang pekerja sedang membagi traktat tentang Kristus di sebuah kota di India, dan orang yang menerima traktat itu bertanya, “Apakah ini Yesus yang dipercayai oleh Glades Staines itu? Jika ya, saya juga mau mengenal-Nya.”
Hanya apabila Yesus itu nyata bagi kita barulah dapat kita menyatakan-Nya kepada orang lain. Glades mempunyai hubungan yang nyata dan hidup dengan Tuhan yang dilayaninya. Inilah yang dikisahkan oleh Glades saat ia ditanya bagaimana ia dapat dengan tenang melewati pencobaan yang berat itu, “Saya percaya Tuhan secara khusus berbicara kepada saya pada tanggal 14 Januari, [6 hari sebelum pembunuhan sadis keluarganya] , saat saya sedang melakukan renungan pagi. Saya menggunakan buku renungan harian. Kisah pada hari itu adalah: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun di rumah sakit yang sedang kehilangan penglihatannya. Pendetanya mengunjungi dia dan gadis itu memberitahu pendetanya, “Pak Pendeta, Tuhan sedang mengambil penglihatan saya.” Buat waktu yang lama, pendeta itu tidak berkata apa-apa, kemudian ia menjawab, “Jessie, jangan mengijinkan- Nya.” Jessie bingung dan pendeta yang bijaksana itu berkata, “Berikan kepada-Nya.”
Saat merenungkan kisah ini, suara hati saya bertanya apakah saya juga rela untuk memberikan semua yang saya kasihi - suami saya, anak-anak dan segala harta milik saya kepada-Nya. Saya meluangkan waktu yang lama merenungkan hal ini. Dengan air mata berlinangan di pipi, saya berkata kepada Tuhan, “Yesus, ya saya sanggup. Ambil semua yang ku-miliki bagi Engkau - suamiku, anak-anak dan semua yang ku-miliki. Aku menyerahkan semuanya kepada Engkau…”
Tanpa hubungan yang hidup dan akar yang mendalam di dalam Kristus, tidaklah mungkin bagi Glades untuk bertahan melewati peristiwa yang begitu menyedihkan itu. Siapakah kita sebenarnya, apakah kita berakar atau tidak terlihat bukan saat segalanya mulus, saat kita tersenyum manis ketika bertemu dengan teman-teman sekali seminggu di gereja. Seperti buah jeruk, apakah manis atau asam hanya diketahui saat jeruk itu diperas. Begitu jugalah dengan kita, siapa kita sebenarnya, apakah kita menebarkan bau harum kehidupan atau bau busuk kematian, hanyalah terlihat saat penindasan dan penganiayaan datang.
Setelah tragedi yang terjadi ke atas keluarganya, banyak orang yang menduga Glades dan putrinya akan meninggalkan India dan kembali ke Australia. Namun hal itu tidak terjadi. Sampai ke saat ini Glades masih dengan tekun dan penuh kasih melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulai oleh suaminya. Satu menara api yang masih dengan terang menerangi dunia yang gelap ini. (Dipublikasi pada 28 September 2008)
Sumber: yfc_indonesia@yahoogroups.com

Senin, 23 Maret 2009

Bapak

“Bapak, sudah aku gak mau lagi becanda!!” sahutku kemarin malam, saat Bapak mencoba menggodaku. Lucu memang, aku dan Bapak seakan bukan seperti anak dan orangtua, kadang Bapak kalau mengggoda aku, aku marah dan sering memukul seperti layaknya kepada teman. Namun Bapak tidak marah, bahkan Bapak selalu lari dan menghindar dari pukulanku.
Dulu aku pernah sempat membenci sosok yang satu ini, yach aku sempat membenci Bapak. Aku merasa Bapak tidak banyak membantu mengatasi masalah keuangan di keluarga aku. Memang dalam keluargaku gaji Ibu lebih banyak daripada Bapak, dengan gaji Ibu aku dan kedua adikku bisa kuliah. Aku pernah sangat jengkel dengan Bapak karena kondisi ini.
Hari ini tiba-tiba satu persatu kejadian yang pernah aku alami bersama Bapak seakan terekam bagai kamera dan film itu seolah berputar tepat di mataku. Aku masih ingat saat Ibu harus dioperasi karena sakit kanker rahim, Bapak dengan setia menunggu Ibu di Rumah Sakit, di tengah kelelahannya karena pulang kerja, Bapak tidak peduli, setiap kali aku dan kedua adikku menawarkan diri untuk menggantikan jaga di Rumah Sakit, Bapak selalu menolak, Bapak tetap meminta kami bertiga untuk pulang dan belajar, untuk mempersiapkan Ujian karena saat itu aku dan adikku harus menghadapi Ujian Akhir, juga adikku yang kecil harus siap untuk EBTANAS. Aku juga masih ingat, ketika aku pulang kuliah kudapati Bapak sedang memasak di dapur, aku Tanya “kenapa masak Bapak..?” Bapak menjawab, “karena Ibu sakit, dan kamu pulang nanti makan apa kalau lapar?. Benar-benar jawaban yang kadang aku tidak mengerti. Padahal kalau aku lapar aku bisa membeli makanan yang lewat di depan rumah, tapi ternyata jalan pikiran Bapak berbeda.
Satu hal lagi yang unik pernah terjadi, Bapak pernah memaksa aku untuk masuk Fakultas Non Gelar, tepatnya Akademi Sekretari, dengan alasan supaya aku bisa cepat mendapatkan kerja. Padahal saat itu aku sudah mendaftarkan diri aku sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, sehingga aku harus mengahadap Pembantu Rektor I untuk mengajukan permohonan pindah fakultas, sekarang aku bisa merasakan manfaatnya, aku cepat mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Aku masih ingat saat aku duduk di bangku SMA kelas III, aku mendapatkan surat dari teman laki-laki yang ditujukan ke alamat rumah, tapi di luar dugaanku Bapak telah membuka surat tersebut dan membacanya. Aku benar-benar terkejut, apalagi ternyata surat tersebut berisikan perasaan seorang laki-laki yang jatuh cinta pada lawan jenisnya. Aku mendapat “Instruksi dan Peringatan Keras”, bahwa aku tidak boleh berpacaran kalau masih duduk di bangku sekolah. Banyak hal yang dilakukan Bapak, dan terkadang bertentangan dengan keinginanku. Banyak hal yang tidak aku mengerti pada Bapak, kemauannya, keinginannya, semuanya, tapi semuanya aku dapat petik manfaatnya. Suatu hari, aku pernah ditegur Ibu karena kerasnya hatiku, Ibu memberikan berbagai pandangan tentang penilaian aku terhadap Bapak, bagi Ibu ketidakperdayaan Bapak atas gaji istri yang lebih besar bukan karena diri Bapak, melainkan keadaan yang memang terjadi, karena status pekerjaan yang memang berbeda jauh dari Ibu. Ibu memberikan pengertian yang akhirnya membuat aku sadar bahwa dalam kehidupan keluarga uang bukanlah segalanya.
Aku begitu tertegun, melihat Bapak menggendong Ibu, memandikannya, menggantikan baju yang berlumuran darah, saat Ibu sakit. Aku heran, melihat ketegaran hati Bapak bergelut dengan darah, juga berbagai makanan yang tidak bisa masuk ke lambung Ibu dan harus dimuntahkan. Bahkan aku sempat bergumam, Bapak adalah sosok yang setia, Bapak bertanggung jawab terhadap keluarganya. Yach seolah Tuhan membukakan mataku, pikiranku, karena dengan begitu tiba-tiba aku mengagumi Bapak.
Dua hari sebelum operasi, Ibu merasa ketakutan, ibu sangat takut kehilangan Bapak, Ibu takut bahwa Bapak akan meninggalkannya jika mengetahui Ibu sakit kanker dan tumor rahim. Ibu mengungkapkan itu semua kepadaku, dan waktu itu aku mendorong semangat Ibu untuk tidak berpikiran buruk dulu aku meminta Ibu untuk menyerahkan semua pada Tuhan. Tapi….semua pikiran Ibu, tidak terjadi, Bapak dengan tabah mendampingi Ibu menjalani berbagai kesusahan dan kesakitan, Bapak setia mengantar Ibu kontrol, berobat, memandikan, menunggu selama di rumah sakit, dan semua itu berlangsung selama satu tahun. Yach satu tahun bukan waktu yang pendek, dan bisa saja kejenuhan menimpa Bapak, tapi aku tidak melihat semua itu. Bapak tetap tegar memberikan semangat agar Ibu cepat sembuh dari sakitnya.
Sampai sekarang yang selalu mengusik dan membuat aku tertawa dalam hati, adalah sikap Bapak yang terlalu kuatir pada aku dan kedua adikku. Padahal kami bertiga sudah besar-besar, dan kami punya kesibukan sendiri-sendiri, arah dan tujuan kegiatan kami pun tidak selalu sama. Jika Bapak masuk kerja malam, Bapak selalu menelepon ke rumah tepat jam 10 malam, sekedar bertanya pada Ibu apakah aku dan dua adikku sudah berkumpul semua di rumah.
Dulu aku berpikir bahwa hanya Ibu yang sanggup mencintai juga berani berkurban demi anak-anak dan keluarganya, tapi sekarang Tuhan merubah jalan pikiranku, kasih Ibu memang sepanjang jalan, tapi kasih Bapak juga tak terukur.
Aku hanya bisa berharap bahwa teman-teman bisa mencintai Bapak seperti teman-teman mencintai Ibu. Bapak dan Ibu adalah sosok yang harus kita tempatkan istimewa di hati kita, yang pantas kita cintai lebih dari apapun, walaupun itu pacar, kekasih atau sahabat. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan memberikan ketidakberuntungan padamu, karena kamu mempunyai orangtua yang tidak tampan, tidak canntik atau tidak kaya, tetap cintailah mereka dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka.
Aku berdoa semoga teman-teman tidak mengulang kesalahanku lagi, yang membenci sosok Bapak, karena itu akan menimbulkan penyesalan kelak di belakang hari. Cintailah Bapak juga Ibu selagi mereka masih hidup.
Tulisanku yang jauh dari kurang sempurna ini semoga bisa bermanfaat.

30 September 2003 Salam,
Ririn Teguh Setyowati

Selasa, 28 Oktober 2008

Mau saya doakan...?

Di bawah ini merupakan kesaksian dari pendeta yang kemarin berkotbah di tempat saya. Nama pendetanya Bp Wisnu. Berikut penuturan beliau:

Beberapa waktu yang lalu saya ada pelayanan untuk Youth di daerah Tangerang. Saya naik bis jurusan Tangerang pada siang harinya untuk menuju rumah kakak saya terlebih dulu karena pelayanan tersebut akan berlangsung sore hari. Di dalam bis yang penuh sesak tersebut, masuk pula seorang pengamen cilik usia sekitar 7-8 tahun dengan berbekal kecrekan sederhana (mungkin dari tutup botol)

Berbekal alat musik sederhana tersebut, dia nyanyikan lagu "Yesus ajaib, Tuhanku ajaib...." (~ a song by Ir. Niko, red.) Dan kata-kata tersebut diulang terus menerus. Hampir seluruh penumpang bis memarahi anak tersebut, "Diam kamu! Jangan nyanyi lagu itu lagi. Kalau kamu nggak diam, nanti saya pukul kamu!"

Tapi ternyata anak tersebut tidak menanggapi kemarahan mereka dan dengan berani terus menyanyikan lagu tersebut. Saya dalam hati berkata, "Tuhan, anak ini luar biasa. Kalau saya, belum tentu saya bisa/berani melakukan hal tersebut". Karena bis akan melanjutkan perjalanan menuju tol berikutnya, di pintu tol menuju Serpong (kalau tidak salah), hampir 3/4 penumpang turun dari bis tersebut. Termasuk saya dan pengamen cilik tersebut. Anak kecil itu didorong hingga akhirnya jatuh. Kemudian dia bangkit lagi. Tapi dia didorong oleh massa hingga terjatuh lagi. Semua penumpang bis mengerumuni anak itu. Saya masih ada di situ dengan tujuan jika kemudian anak tsb akan ditempeleng atau dihajar, saya akan berusaha untuk menariknya lari menjauhi mereka.

Seluruh kerumunan itu baik pria maupun wanita menjadi marah, "Sudah dibilang jangan nyanyi masih nyanyi terus! Kamu mau saya pukul?" dst, dst. Anak kecil itu hanya terdiam. Setelah amarah mereka mulai mereda, anak kecil itu baru berbicara, "Bapak-bapak, Ibu-Ibu jika mau pukul saya, pukul saja. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Tapi yang Bapak dan Ibu perlu tahu, walaupun saya dipukul atau dibunuh saya tetap akan menyanyikan lagu tersebut." Seluruh kerumunan menjadi terdiam sepertinya mulut mereka terkunci. Kemudian dia melanjutkan, "Sudahlah... . Bapak, Ibu tidak perlu marah-marah lagi. Sini.. saya doakan saja Bapak-Ibu."

Dan apa yang terjadi, seluruh kerumunan itu didoakan satu per satu oleh anak ini. Banyak yang tiba-tiba menangis dan akhirnya mau menerima Tuhan. Saya yang sedari tadi menyaksikan hal tersebut, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tsb. Saya melanjutkan naik mikrolet. Jalanan macet krn kejadian tersebut hingga mikrolet melaju dengan sangat lambat. Sopir mikroletnya bertanya, "Ada apa sih Pak? Koq banyak kerumunan?" Saya jawab "O.... Itu ada banyak orang didoakan oleh anak kecil."

Di saat mikrolet melaju dengan sangat pelan, tiba-tiba anak kecil pengamen itu naik mikrolet yang sama dengan saya. Saya kemudian bertanya, "Dik, kamu nggak takut dengan orang-orang itu?"

Jawabnya, "Buat apa saya takut? Roh yang ada dalam diri saya lebih besar dari roh apapun di dunia ini", tuturnya mengutip ayat Firman Tuhan. Lanjutnya, "Bapak mau saya doakan?"

Saya terperanjat, "Kamu mau doakan saya?"
Jawabnya, "Ya kalau Bapak mau."
Saya menjawab, "Baiklah. Kamu boleh doakan saya."
Doanya, "Tuhan berkati Bapak ini. Berkati dan urapi Bapak ini jika sore nanti dia akan ada pelayanan Youth."

Sampai di situ, saya tidak bisa menahan air mata yang deras mengalir. Saya tidak peduli lagi dengan penumpang lain yang mungkin menonton kejadian tersebut. Yang saya tahu bahwa Tuhan sendiri yang berbicara pada anak ini, dari mana dia tahu saya akan ada pelayanan Youth sore ini.

Kesaksian ditutup sampai di situ dan dengan satu kesimpulan, jika kita mau, Tuhan bisa pakai kita lebih lagi. Bukan kemampuan tapi kemauan yang Tuhan kehendaki.

~ kesaksian oleh Pdt. Wisnu

Tuhan memberkati.
From: henny liauw

Mengapa Beruang Tumbuh Besar

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap.

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya, hup, ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan.
Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."
"Mengapa," tanya sang beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.
"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah
beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang
besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan
memakanku untuk memenuhi seleramu," kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang.
"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!" jawab beruang sambil tersenyum mantap.

"Ops!" teriak sang ikan.

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap: "Ohhh, andaikan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dulu!"

Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detail kesempatan dalam hidup kita! Di saat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; di saat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kondisi terburuk sekalipun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

Tuhan Yesus Kristus Memberkati,
(gotn-ministry.org)

Membangun Rumah

Selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, perhatian khusus juga merupakan hal yang tidak kalah penting dalam pembangunan sebuah rumah. Bukan tanpa alasan perhatian khusus ini diperlukan. Tujuannya adalah agar rumah tersebut dapat dibangun dengan benar; mulai dari pondasi rumah, saluran jalan air, dan yang lainnya.

Tentunya semua ini diperlukan sebelum memperhatikan serta mendapatkan inspirasi guna penyelesaian sejuta pekerjaan tahap akhir termasuk cara terbaik menghias rumah agar menyenangkan untuk didiami. Selama proses pembangunan, kita harus senantiasa menetapkan prioritas supaya dana yang tersedia digunakan sebaik mungkin.

Dalam perikop ini, Tuhan memerintahkan Hagai dan seluruh umat yang kembali dari pembuangan membangun kembali Rumah Tuhan yang telah runtuh. Sibuknya setiap orang membangun rumah masing-masing namun melupakan pembangunan Rumah Tuhan merupakan alasan Tuhan untuk meminta mereka membangun kembali baitNya. Tidak heran bila Tuhan menegur mereka, "Perhatikanlah keadaanmu" (ay.7). Bahkan Tuhan mengulang ucapan ini sampai tiga kali. Karena itulah Hagai mengajak mereka untuk mendahulukan Tuhan agar pada akhirnya Tuhan memberkati mereka dengan tuaian yang berlimpah.

Sebagai umat Perjanjian Baru, kita tidak lagi membangun Rumah bagi Tuhan. Kristus tidak tinggal dalam rumah yang terbuat dari batu, tetapi dalam umatNya ?yaitu Anda dan saya- yang harus mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang kudus dan berkenan (Roma 12:1). Dengan demikian, Ia dapat memakai Anda sebagai alat dalam pekerjaanNya yang kudus dan mulia (II Timotius 2:20-21). Anda harus membangun suatu kehidupan yang ?akan berkenan kepadaNya dan akan menyatakan kemuliaanNya? (ay.8).

Perhatian khusus dibutuhkan untuk membangun hidup berdasarkan Firman Tuhan. Perhatian khusus dibutuhkan untuk membingkai hidup dengan doa. Perlu adanya prioritas yang berkesinambungan dalam hal ?mencari dahulu kerajaanNya? (Matius 6:33) saat diperhadapkan dengan banyak godaan dan pilihan.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa upah yang akan Anda terima adalah seimbang. Bila dalam hati kita muncul keinginan untuk membangun dengan hati-hati,Yesus Kristus sendiri yang akan menunjukkan caranya. Ia datang untuk diam dalam Anda.

Ia "menghiasi" kehidupan Anda dengan sukacita. RohNya melukis ruang-ruang hati Anda dengan damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kelemah lembutan dan penguasaan diri. Ia menjadikan Anda "rumah" yang hangat dan ramah, bukan ruangan kosong.

Dan saat Anda membangun hidup bagi Dia, Ia berjanji bahwa suatu hari Ia akan membalasnya. Sementara Anda membangun ?rumah? bagi Yesus, Ia sibuk menyediakan tempat bagi Anda di rumahNya (Yohanes 14:2).

Tuhan Yesus Kristus Memberkati,
(gotn-ministry.org)

Membangun Rumah

Selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, perhatian khusus juga merupakan hal yang tidak kalah penting dalam pembangunan sebuah rumah. Bukan tanpa alasan perhatian khusus ini diperlukan. Tujuannya adalah agar rumah tersebut dapat dibangun dengan benar; mulai dari pondasi rumah, saluran jalan air, dan yang lainnya.

Tentunya semua ini diperlukan sebelum memperhatikan serta mendapatkan inspirasi guna penyelesaian sejuta pekerjaan tahap akhir termasuk cara terbaik menghias rumah agar menyenangkan untuk didiami. Selama proses pembangunan, kita harus senantiasa menetapkan prioritas supaya dana yang tersedia digunakan sebaik mungkin.

Dalam perikop ini, Tuhan memerintahkan Hagai dan seluruh umat yang kembali dari pembuangan membangun kembali Rumah Tuhan yang telah runtuh. Sibuknya setiap orang membangun rumah masing-masing namun melupakan pembangunan Rumah Tuhan merupakan alasan Tuhan untuk meminta mereka membangun kembali baitNya. Tidak heran bila Tuhan menegur mereka, "Perhatikanlah keadaanmu" (ay.7). Bahkan Tuhan mengulang ucapan ini sampai tiga kali. Karena itulah Hagai mengajak mereka untuk mendahulukan Tuhan agar pada akhirnya Tuhan memberkati mereka dengan tuaian yang berlimpah.

Sebagai umat Perjanjian Baru, kita tidak lagi membangun Rumah bagi Tuhan. Kristus tidak tinggal dalam rumah yang terbuat dari batu, tetapi dalam umatNya ?yaitu Anda dan saya- yang harus mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang kudus dan berkenan (Roma 12:1). Dengan demikian, Ia dapat memakai Anda sebagai alat dalam pekerjaanNya yang kudus dan mulia (II Timotius 2:20-21). Anda harus membangun suatu kehidupan yang ?akan berkenan kepadaNya dan akan menyatakan kemuliaanNya? (ay.8).

Perhatian khusus dibutuhkan untuk membangun hidup berdasarkan Firman Tuhan. Perhatian khusus dibutuhkan untuk membingkai hidup dengan doa. Perlu adanya prioritas yang berkesinambungan dalam hal ?mencari dahulu kerajaanNya? (Matius 6:33) saat diperhadapkan dengan banyak godaan dan pilihan.

Namun, perlu Anda ketahui bahwa upah yang akan Anda terima adalah seimbang. Bila dalam hati kita muncul keinginan untuk membangun dengan hati-hati,Yesus Kristus sendiri yang akan menunjukkan caranya. Ia datang untuk diam dalam Anda.

Ia "menghiasi" kehidupan Anda dengan sukacita. RohNya melukis ruang-ruang hati Anda dengan damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kelemah lembutan dan penguasaan diri. Ia menjadikan Anda "rumah" yang hangat dan ramah, bukan ruangan kosong.

Dan saat Anda membangun hidup bagi Dia, Ia berjanji bahwa suatu hari Ia akan membalasnya. Sementara Anda membangun ?rumah? bagi Yesus, Ia sibuk menyediakan tempat bagi Anda di rumahNya (Yohanes 14:2).

Tuhan Yesus Kristus Memberkati,
(gotn-ministry.org)

Jumat, 10 Oktober 2008

Baju-Baju yang Menipu

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard," kata sang pria lembut. "Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat. "Kami akan menunggu," jawab sang Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard." Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?? Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai.Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju,acap menipu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tuhan Yesus Kristus Memberkati - GOTN
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~